Loading...

Senin, 22 Juli 2013

Filsafat Postmodernisme


A.    Pengertian Postmodernisme
Awalan post pada istilah itu banyak menimbulkan perbedaan arti. Lyotard mengartikan post berarti pemutusan hubungan pemikiran total dari segala pola kemodernan.[1] David Griffin, mengartikannya sekedar koreksi atas aspek-aspek tertentu saja dari kemordenan.[2] Sementara menurut Tony Cliff, postmodernisme berarti suatu teori yang menolak teori.[3] Akhiran “isme” berarti aliran atau sistem pemikiran yang menunjuk pada kritik-kritik filosofis atas gambaran dunia, epistemologi, dan ideologi modern.[4]
Postmodernisme telah digunakan dalam berbagai bidang, sehingga tidak mengherankan jika maknanya menjadi kabur. Istilah tersebut dipakai dalam bidang musik, seni rupa, fiksi (novel), dan filsafat ( Lyotard, Derrida, Vattimo). Istilah postmodernisme disana digunakan secara kontroversial, sehingga tokoh-tokoh yang bisa dimasukkan dalam daftar nama-nama tersebut sama kontroversialnya.[5]
Istilah postmodernisme pertama kali digunakan oleh Frederico de Onis pada tahun 1930an untuk menyebut gerakan kritik di bidang sastra, khususnya sastra Prancis dan Amerika Latin. Onis menyebut tahap modernisme awal antara tahun 1896-1905 dan tahap postmodernisme antara tahun 1905-1914 yang ia sebut  “periode intermezzo”, dan modernitas yang lebih tinggi kualitasnya – dalam tahap ultramodern antara tahun 1914-1932. Kemudian pada 1947, sejarawan Arnold Toynbee memakai kata postmodern dalam buku A Study of History. Bagi Toynbee, pengertian postmodern adalah masa yang ditandai perang, gejolak sosial, revolusi yang menimbulkan anarki, runtuhnya rasionalisme dan pencerahan. Pada tahun yang sama, Rudolf Panwitz menyebut “manusia postmodern” sebagai manusia sehat, kuat, nasionalis, dan religious yang muncul dari nihilisme Eropa. Postmodernisme adalah puncak modernisme. Pada tahun 1957, Peter Drucker menulis subjudul Laporan tentang Dunia Pascamodern dalam bukunya The Landmarks of Tomorrow. Drucker memperkenalkan istilah postmodern untuk menyebut perkembangan baru dalam bidang ekonomi yang sudah memasuki zaman pascaindustri/pascakapitalis, dan revolusi gelombang ketiga.[6]
Postmodernisme merupakan gerakan kontemporer. Gerakan ini kuat dan modis. Namun demikian, tidak jelas gerangan ini. Kejelasan bukanlah ciri yang menonjol dari gerakan ini. Tidak hanya sulit mempraktikanya, tetapi kadang kala juga sulit menolaknya. Yang jelas tidak ada “pasal kepercayaan posmodernisme no.39”, atau “Manifesto Posmodernisme”, yang  dapat dipakai oleh seseorang untuk mengukur ketepatan penilaiannya terhadap  posmodernisme.[7]
Pemikiran Lyotard berkisar tentang posisi pengetahuan di abad ilmiah kita, khususnya tentang cara ilmu dilegitimasikan melalui yang disebutnya “narasi besar” seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, kaum proletar, dan sebagainya. Metaranasi itu menurut Lyotard, telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi  besar sebelumnya seperti religi, negara-kebangsaan, keunggulan Barat, dan sebagainya, yang sulit dipercaya. Dengan kata lain, dalam abad ilmiah ini narasi-narasi besar menjadi tidak mungkin, khususnya narasi tentang peranan dan kesahihan ilmu itu sendiri. Maka nihilisme, anarkisme, dan pluralisme “permainan bahasa” pun merajalela. Yang perlu ditunjukkan sekarang adalah kepekaan baru terhadap perbedaan-perbedaan dan keberanian melawan segala bentuk totaliterisme.[8]
Dengan pandangan itulah, Lyotard membawa istilah postmodernisme ke dalam medan diskusi filsafat lebih luas. Sejak saat itu segala kritik atas pengetahuan universal, atas tradisi metafisik, fondasionalisme, maupun atas modernisme, diidentikkan dengan postmodern. Oleh sebab itu, istilah postmodernisme di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan memang ambigu; ia menjadi sekedar istilah yang memayungi hampir segala bentuk kritik atas modernisme, meskipun satu sama lain berbeda. Dengan demikian, istilah postmodernisme dipahami sebagai “segala bentuk refleksi kritis atas paradigm-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya”.[9]
B.     Konteks Sosial yang Melahirkan : “Penyimpangan” Modernisme
Rasionalitas, hasil pencerahan akal budi akan membantu kita menghadapi mitos-mitos dan keyakinan-keyakinan tradisional yang tak berdasar, yang membuat manusia tak berdaya dalam menghadapi dunia ini. Barker menjelaskan bahwa akal dapat mendemistifikasi dan menyingkap dunia, mengalahkan agama, mitos, dan takhayul. Dalam filsafat dan wacana teoritis modernitas, “akal” dinobatkan sebagai sumber kemajuan dalam pengetahuan dan masyarakat. Di sini tugas filsafat pencerahan adalah berupaya untuk mencari kebenaran universal, yakni prinsip-prinsip pengetahuan yang berlaku pada waktu, tempat, dan budaya mana pun. Peran pemikiran pencerahan bagi kemajuan hidup manusia adalah mendorong perkembangan ilmu-ilmu, pendidikan universal, kebebasan politik dan keadilan.[10]
Namun demikian, modernisme mempunyai sisi gelap yang menyebabkan kehidupan manusia kehilangan disorientasi. Para pemikir, seperti Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse , mengkritik bahwa pencerahan bukannya melahirkan kemajuan, tetapi justru memunculkan penindasan dan dominasi. Akal mengarah bukan pada pemenuhan kebutuhan material atau pencerahan filosofis, melainkan pada kontrol dan perusakan. Teori kritis ingin membebaskan manusia dari pemanipulasian para teknokrat modern.[11]
“Sisi gelap” modernisme, menurut Anthony Giddens dalam The Consequences of Modernity (1990), menimbulkan berkembang biaknya petaka bagi umat manusia. Pertama, penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa. Kedua, penindasan oleh yang kuat atas yang lemah. Ketiga, ketimpangan sosial yang kian parah. Keempat, kerusakan lingkungan hidup yang kian mengkhawatirkan. Produk akhir yang menimbulkan petaka tersebut, terutama dipicu oleh: Pertama, kapitalisme liberal yang menyaratkan kompetisi tiada akhir akan pertarungan pasar. Kedua, industrialisme yang mensyaratkan inovasi tiada henti untuk memenangkan persaingan pasar bebas. Ketiga, lemahnya kekuatan negara di dalam mengemban tugas minimalnya untuk menciptakan tertib sosial yang aman, rukun, damai, dan adil.[12]
C.    Filsuf Awal Postmodernisme
Awal mulanya modernisme dan munculnya postmodernisme sebenarnya dapat dilacak pada filsafatnya Soren Kierkegaard (1813-1855), yang menentang rekonstruksi-rekonstruksi rasional dan masuk akal yang menentukan keabsahan kebenaran ilmu. Kriteria kebenaran yang berlaku bagi dunia modern adalah yang rasional dan objektif. Kierkegaard justru berpendapat sebaliknya, bahwa kebenaran itu bersifat subjektif, “truth is subjectivity”. Pendapat tentang “kebenaran subjektif” ini menekankan pentingnya pengalaman dan relativitas, yang dialami oleh individu-individu.[13] Di sini Nietszche (1844-1900) jelas menolak pengetahuan yang mengandung kebenaran bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, karena pengetahuan itu bukan persoalan penemuan sejati, melainkan perkara konstruksi interpretasi-interpretasi tentang dunia yang dianggap benar. Kebenaran juga bukan merupakan sekumpulan fakta karena yang mungkin dilakukan hanyalah interpretasi dan “dunia bisa diinterpretasikan dalam cara-cara yang tak terbatas jumlahnya”.[14]
Keraguan Nietszche untuk mengakui universalitas pengetahuan dapat kita telusuri ke masa sebelumnya sampai pada kaum skeptis. Kaum skeptis, misalnya kaum sophis, memang menolak adanya pengetahuan universal. Bagi mereka, “man is the measure of all things”. Baik dan jahat, cantik dan buruk tergantung pada kebutuhan, kondisi, kepribadian orang tersebut. Tidak ada norma umum untuk menentukan itu. Jika sering kali fakta dijadikan bukti atas kepastian suatu pengetahuan, namun keyakinan kaum skeptis tetap tidak tergoyahkan karena mereka tetap meragukan cara kita tahu bahwa bukti itu benar dan bukan hanya tipuan. Intinya, secara radikal kaum skeptis menolak adanya pengetahuan. Demikian juga dengan Nietszche yang menolak akal pencerahan dan pengetahuan universal.[15]
Edmund Husserl (1859-1938), dipandang sebagai tokoh penting perintis postmodernisme. Dalam karyanya The Idea of Phenomenology, Husserl mencoba mengatasi persoalan “subjek-objek” dengan cara membongkar secara efektif paham tentang “subjek-epistemologis” dan “dunia objektif”. Sejak itu, persoalan epistemologi dan juga tentang “ilmu” dan “keilmiahan” terus-menerus dipertanyakan. [16]
Di samping Kierkegaard, Nietszche, dan Husserl, Martin Heidegger (1889-1976) juga dipandang sebagai perintis postmodernisme. Heidegger sangat kritis terhadap filsafat modern tentang manusia. Manusia bukanlah segumpal substansi berpikir yang sadar diri, atau makhluk yang kerjanya memikirkan dan merumuskan hal ihwal; tetapi manusia adalah dasein ia “ada dalam dunia”. Hubungan manusia dengan kenyataan tidak semata-mata hubungan intelektual, subjek memahami objek.[17]
D.    Teoretisi Poastmodernisme
1.      Francouis Lyotard
Dilahirkan di Versailles 10 Agustus 1924, dan meninggal di Paris tanggal 21 April 1998. Bukunya yang pertama adalah sebuah introduksi pada fenomenologi, dan fenemenologi tetap memiliki pengaruh kuat pada karya-karya Lyotard.[18] Bagi Lyotard, postmodernisme itu sepertinya intensifikasi dinamisme, upaya tak henti-hentinya untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan terus-menerus. Lyotard mengatakan, “Marilah kita perangi totalitas, marilah kita hidupkan perbedaan”.[19] Kenyataannya postmodern menjadi wadah pertemuan berbagai perspektif teoretis yang berbeda-beda: “Ilmu pengetahuan postmodern memperluas kepekaan kita terhadap pandangan yang berbeda dan memperkuat kemampuan kita untuk bertoleransi atas pendirian yang tak mau dibandingkan”.[20]
2.      Michael Foucault
Memang tidak secara tegas menolak keuniversalan pengetahuan, tetapi dari pandangannya tentang “wacana yang bersifat diskontinu” tampaklah penolakan itu. Bagi Foucault, setiap era sejarah memiliki pandangan, deskripsi, klasifikasi, dan pemahaman tentang dunia secara khas. [21]
Ada beberapa asumsi pemikiran pencerahan “klasik” yang ditolak oleh Foucault, yaitu:
1.      Pengetahuan itu tidak bersifat metafisis, transendental atau universal, tetapi khas untuk setiap waktu dan tempat.
2.      Tidak ada pengetahuan menyeluruh yang mampu menangkap karakter “objektif” dunia, tetapi pengetahuan itu selalu mengambil perspektif.
3.      Pengetahuan tidak dilihat sebagai cara pemahaman yang netral dan murni, tetapi selalu terikat dengan rezim-rezim kekuasaan.
4.      Pengetahuan sebagai wacana tidak muncul sebagai evolusi sejarah yang konstan, melainkan bersifat diskontinu.[22]       
3.      Jacques Derrida
        Filsuf yang satu ini tidak terlepas dari buah pikirannya tentang dekonstruksi.[23] Dekonstruksi adalah sebuah metode pembacaan teks secara interpretatif atau, katakanlah, suatu hermeneutik dengan cara radikal. Heidegger ingin melampaui interpretasi makna Ada seperti itu dengan mencoba memikirkan sesuatu yang Ada di luar tradisi metafisika Barat. Dengan cara itu ia mempersiapkan penyelesaian suatu era yang ia sebut “metafisika”. Derrida meneruskan upaya ini, namun di posisisnya berbeda: Ia tidak menerima perspektif Heidegger yang mengangkat dirinya berada di luar tradisi dan juga tidak menerima hermeneutik yang “lazim” yang memandang tradisi sebagai tolok ukur. Posisi Derrida di pinggiran: Dekonstruksi bergerak pada batas-batas di antara kedua perspektif tersebut.[24]
4.      Fredric Jameson (1934)
Fredric Jameson lahir 14 April 1934 di Cleveland, Ohio. Kini ia menjabat sebagai Profesor of Comparative Literature di Duke University (Durham NC, USA). Sudah puluhan esai dan belasan buku yang ia telah tulis sejak 1961 sampai sekarang. Karya-karyanya menganalisis teks sastra dan budaya dengan mengambil posisi neo-Marxis.
Teori: Logika Kultural Kapitalisme Akhir
Istilah “kapitalisme lanjut” (late capitalism) mulai digunakan di Eropa menjelang akhir tahun 1930-an, yaitu ketika banyak ahli ekonomi percaya kapitalisme bergerak mendekati ajalnya. Menurut ahli ekonomi berhalauan Marxist, Ernest Mandel, yang mempopulerkan penggunaan istilah “late capitalism” ini dalam desertasi doctoralnya 1972, Late Stage Capitalism akan didominasi oleh machinations – atau fluiditas dari modal financial. Dalam tradisi Marxist klasik, Mandel mencoba menegaskan hakikat dari epos modern sebagai satu keutuhan, guna menunjukkan bagaimana kekuatan-kekuatan yang sama yang telah mendorong pengumpulan laba setelah perang dunia terjadi pada akhirnya akan berbalik arah secara dialektis, dan menjadi penyebab dari keruntuhannya. Periode late capitalism yang dipakai Jameson dipinjam dari periodesasi yang dibuat oleh Mandel, yang membagi perkembangan kapitalisme menjadi tiga fase, yaitu kapitalisme pasar, monopoli (imperialism), dan modal multinasional.
a.       Kritik terhadap postmodernisme
Dalam buku The Philosophical Discourse of Modernity, Habermas mengemukakan berbagai kritiknya terhadap pemikiran postmodernisme. Ia menyatakan bahwa asal-usul konsep “post-modernity” itu sendiri harus diteliti. Habermas menyatakan ada kelemahan mendasar pemikiran kaum posmodernis tentang “modernitas” yang dianggap historis. Para pemikir postmodernis seakan-akan menghilangkan dimensi dan cakrawala historis yang memunculkan “postmodern” itu. Para pengikut Hegel, termasuk Teori Kritis Mazhab Frankfurt, mencoba mengatasi masalah modernitas dengan tetap bertolak dari asumsi-asumsi epistemologi modern.
Nietszhe justru mengambil jalan radikal dengan mencoba mengatasi modernitas dengan meninggalkan proyek modernitas dan rasionalitas modern itu. Nietszhe meninggalkan proyek rasionalitas modern dengan menyingkirkan kepercayaan pada sejarah dan rasionalitas, dan akhirnya menyatakan bahwa tidak ada batas yang jelas antara mitos dan logos. Perbedaaan mitos dan logos (rasionalitas) adalah pembatasan yang dilakukan pemikiran filsuf Yunani. Mitos masa lalu memberikan kreativitas bagi pemikiran postmodern. Karena itu, dari perspektif Nietszhe, tidak ada kebenaran ilmu pengetahuan yang absolute universal (kebenaran), yang ada adalah kebenaran-kebenaran yang terkait dengan perspektif dan historis.
Para pemikir postmodernis, yang disebut oleh Habermas sebagai pengikut Niatszhe, memiliki dua strategi yang sebagai akibat ambiguitas pemikiran Nietszhe sendiri dalam mengkritik modernitas. Pertama, kelompok yang berupaya untuk menyingkapkan kehendak untuk berkuasa sebagaimana dilakukan Foucault. Sedangkan kelompok kedua masuk melalui kritik terhadap metafisika seperti yang dilakukan oleh Heidegger dan Derrida. Habermas menolak untuk menyerah pada adanya kemungkinan pemahaman ilmiah atau rasional atas dunia kehidupan serta kemungkinan rasionalisasi dunia tersebut.
Postmodernisme membuka ruang bagi politik perbedaan dan wacana marginal (the politics of difference and marginal discourse) sebagai cara untuk penegakan keadilan dan perubahan sosial. Ada karakteristik yang sama dan menjadi ciri utama Teori Kritis dan postmodern, yaitu bahwa teori sosial harus memilki peran yang berarti bagi proses transformasi dunia dan meningkatkan kondisi kemanusiaan pada arah yang lebih manusiawi. Hal ini terlihat jelas pada teori poskolonial, feminisme, dan cultural studies atau multikulturalisme.
Fredric Jameson dalam tulisannya “Postmodernisme dan Masyarakat Konsumer” menyatakan bahwa datangnya era postmodern membawa – serta pemusnahan telak distingsi-distingsi tempat bergantungnya Teori Kritis itu. Selanjutnya, Jameson menyatakan bahwa distingsi kebudayaan tinggi dengan kebudayaan massa (kebudayaan rakyat atau rendah) secara tradisional memiliki vested interest dalam memelihara realisme kebudayaan tinggi berhadapan dengan kebudayaan massa. Perkembangan masyarakat postmodern tahun 1960-an adalah periode transisional yang ditandai dengan munculnya bentuk baru kolonialisme, green revolution. Kemunculan system informasi baru dengan komputerisasi informasi dan sistem politik global telah membawa – serta egalitearianisme budaya yang melikuidasi distingsi antara kebudayaan tinggi dengan kebudayaan rendah.[25]
Holub merumuskan beberapa kritik Habermas terhadap postmodernisme antara lain:
§  Pemikir postmodernis kurang tegas membedakan apakah mereka menciptakan teori yang serius (ilmiah) atau mengarang sastra. Bila kita katakan mereka menciptakan teori yang serius maka karya mereka menjadi tidak dapat dipahami, karena penolakan mereka terlibat dalam “vocabularies” atau terma ilmiah yang dibangun secara institusional. Sebaliknya, jika kita anggap karya mereka sebagai kesusastraan “maka argument mereka mengorbankan seluruh kekuatan logika”. Adalah sulit mengemukakan kritik terhadap karya-karya postmodernis, karena mereka selalu mengemukakan bahwa para pengritiknya tidak dapat memahami kata-kata serta upaya keras gaya tulis mereka.
§  Habermas merasa bahwa argumen para postmodernis sarat dengan sentiment normatif, namun sentiment mereka itu disembunyikan dari pembaca. Dengan demikian, para pembaca tidak mengerti maksud sesungguhnya pemikiran postmodernis itu, tidak juga mengerti mengapa mereka mengkritik masyarakat dari sudut pandang yang mereka tetapkan sendiri. Sebaliknya, Habermas mengemukakan sentiment normatifnya (kebebasan, keterbukaan komunikasi) yang dijadikan sumber kritiknya terhadap masyarakat serta bisa menjadi basis bagi praksis politiknya.
§  Habermas mengkritik postmodernisme sebagai perspektif yang gagal “membedakan fenomena dan praktik yang terjadi pada masyarakat modern”. Pemikir postmodern dituduh mengabaikan praktik kehidupan dunia. Kekeliruan ini merupakan kerugian ganda bagi pemikir postmodern.[26]
b.      Postmodernisme dan Kritik Pembangunan
Pemikiran-pemikiran postmodernisme dapat digunakan untuk menganalisis diskursus terhadap tantangan pembangunan. Kata development, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “pembangunan”, menyiratkan dominasi, penindasan, dan pengeksplotasian. Postmodernisme telah menyumbangkan perkembangan teori kritik terhadap teori pembangunan dan modernisasi dari perspektif yang sangat berbeda dengan teori-teori kritik sebelumnya.
Sumbangan terbesar postmodernisme terhadap teori dan perubahan sosial adalah membuat teori itu lebih sensitive terhadap relasi kekuasaan dan dominasi menyadarkan kita bagaimana relasi kekuasaan teranyam di setiap aspek kehidupan, dan ini bertentangan dengan ilmu sosial umumnya yang berasumsi itu objektif dan tak berdosa.
c.       Kilas Balik Postmodernisme
Modernisme dan postmodernisme tidak sekedar sebagai aliran filsafat dan teori sosial yang hanya berorientasi pada konsep, sistem, dan metode saja. Lebih dari itu, menurut Habermas, modernisme atau modernitas telah mulai dikembangkan oleh Hegel (1770-1881) karenanya dia menganjurkan kita kepada Hegel jika ingin memahami lebih jauh hubungan internal antara modernitas dan rasionalitas. Para pemikir modernisme kontemporer seperti Karl Popper, Houston Smith, dan Habermas, tidak menganggap penting soal timbulnya gerakan postmodernisme.
Sementara itu, postmodernisme, seperti dikatakan oleh Derrida dan Lyotard, merupakan antithesis dari modernisme. Hampir semua istilah yang diajukan oleh postmodernisme adalah antonimasi terma modernisme. Berikut ini beberapa istilah yang biasa digunakan oleh dua aliran tersebut:
MODERNISME
POSTMODERNISME
Sentralisasi
Pertarungan Kelas
Konstruksi
Teori
Agama
Desentralisasi
Pertarungan Etnis
Dekonstruksi
Paradigma
Sekte-sekte

      Semua istilah dalam daftar tersebut adalah kekontrasan dan antonimisasi. Karena istilah merupakan bagian dari bahasa, dan bahasa merupakan pemikiran dan penerapan logika, maka modernisme menggunakan pola pikir dikotomik dan logika binner, sementara postmodernisme menggunakan pola pikir dan logika anti kemapanan.
Postmodernisme dapat dibagi dalam dua aliran besar, yakni postmodernisme epistemologis dan postmodernisme empiris. Kelompok postmodernisme epistemologi mempertanyakan gagasan-gagasan dasar seperti “filsafat”, “rasionalitas”, “epistemologi” modernisme digugat secara radikal. Pemikir postmodernisme yang dapat dimasukkan dimasukkan dalam kelompok ini adalah Lyortad, Derrida, Faucauld, dan Rorty.[27]
Sementara pemikiran postmodern empiris lebih diorientasikan pada hal-hal yang bersifat dampak nyata dari kemodernan. Seperti dikatakan oleh Rekha Mirchandani, bahwa riset postmodernisme empirik diarahkan untuk mengembangkan konsep-konsep seperti reorganisasi ruang dan waktu, masyarakat beresiko, kapitalisme konsumen, dan postmodernisme etik .[28] Pemikiran yang dapat dikelompokkan kedalam postmodernisme empiris ini, antara lain, Baudrillard, Jameson, dan Ulrich Beck.
d.      Relevansi Postmodernisme bagi Kehidupan Masa Kini
Banyak hal menarik dan bisa diterima dari apa yang ditawarkan oleh pasca modernisme. Lepas dari sah atau tidaknya keberadaan pasca modernisme kenyataanya dia ada dan keberadaanya harus diakui.
Pasca modernisme ingin menghilangkan pendasaran umum dan lebih melihat cerita-cerita kecil. Tanpa ada kerangka atau dasar pijakan tersebut kita tidak bisa bicara apa-apa. Disini akan mudah terjadi kesewenang-wenangan dan yang menjadi korban sudah tentu masyarakat bawah atau kecil.[29] Pasca modernisme menjadi kurang cerdas jika menganggap semua cerita besar perlu didekonstruksi. Namun, pasca modernisme tidak  mampu melakukan itu. Dekonstruksi yang sebenarnya, kata Franz Magnis Suseno adalah menganalis dengan teliti.[30]
Dengan melihat sisi negative postmodernisme, apakah dengan demikian ia harus dibuang? Tentu sisi positifnya masih ada. Ia telah mengingatkan kepada kita agar mewaspadai teori-teori besar, jangan sampai berkembang menjadi ideologi. Postmodernisme tetap dapat dikembangkan dan dipercaya asal ia tidak memutlakkan prinsip dia sendiri dengan menghilangkan prinsip pihak lain. Segala sesuatu perlu dikritisi, dipertanyakan, apakah ia benar berjuang demi menegakkan martabat dan kebahagiaan manusia yang lebih besar, serta sifat saling menghargai manusia sebagai individu-individu dengan segala keunikan dan keberagamannya. Pasca modernisme memberikan hak untuk menyuarakan pendapat dan terus menjalankan sifat emansipatoris.[31]



[1]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984).
[2]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, The Re-enchanment of Science: Postmodern Proposal (Albany: State University of New York, 1988).
[3]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, “http://en.wikipedia.org/wiki/Postmodernism”.
[4]. Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm.306.
[5]. Ernest Gellner, Menolak Postmodernisme (Bandung: Mizan, 1994).
[6]. Ali Maksum, Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 1994), hlm.306.
[7]. Christopher Norris, Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), hlm. 154.
[8]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984), hlm. xxv dan 82.
[9]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum. Istilah “Postmodernisme” digunakan dalam banyak arti dan pemahaman yang kadang saling bertentangan. David R. Griffin, God and religion in the Post-Modern World (New York: State University of New York, 19880, hlm. x-xi. Mike Featherstone, “In Pursuit of the Postmodern: an Introduction”, dalam Theory Cultural and Society Vol.5, 1988, hlm. 195-213.
[10]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, Cultural Studies Tantangan bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan (Jakarta: Koekoesan, 2007), hlm. 70.
[11]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum. Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt (Jakarta: Gramedia, 1983), hlm. xiii.
[12]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, The Consequence of Modernity (Stanford University Press, 1990).
[13]. Sebagaimana dikutip oleh Ali Maksum, A Short History of Philosophy, terjemahan (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002), hlm. 411.
 @chosa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar